Sudahkah Anda (tidak) membayar angkot hari ini?

Spread the love

Sebagai pengguna kendaraan umum, beberapa hal yang sangat memalukan sering dijumpai dan betapa tidak menguntungkan menjadi pengguna angkot di Jakarta ini. Setiap pagi berangkat kerja menggunakan jasa PPD 916 arah ke Tanah Abang, sudah menunggu di daerah Rivoli sekitar jam 7:30 pagi, supaya tidak tertinggal oleh angkutan ini. Maklum, bis PPD 916 ini merupakan bis langka, keberadaannya sangat tidak tentu, jam sampai di suatu halte tidak tepat waktu. Kadang kalau sedang sial, ketinggalan beberapa menit saja bisa menunggu 1 jam untuk kedatangan bis berikutnya.

Akhirnya mencoba alternatif lain dengan bis Mayasari 507 atau 14 dari arah Senen. Tapi malangnya, bis ini sangat penuh (khususnya dengan copet). Sangat berkesan kan, begitu banyak persoalan yang dihadapi sebagai pengguna angkutan umum di Jakarta. Banyak sekali yang bisa dikeluhkan jika memang ingin. Tapi dari sekian banyak kejadian yang tidak mengenakkan di angkot, ternyata sebagian besar disebabkan oleh penggunanya.


Mendengar curhatan teman-teman yang menggunakan jasa Mikrolet dengan posisi duduk 4 dan 6, ternyata banyak yang harus ditoleransi oleh para penggunanya. Jika Anda merupakan orang terakhir yang menaiki mikrolet tersebut (misal di baris kiri sudah 4 orang, dan di baris kanan baru 5 orang), otomatis Anda akan menempati sisi yang masih kosong. Jarang sekali para penumpang yang sudah duduk mau bergeser sekedar memberi tempat orang yang baru naik dapat menempelkan pantatnya di bangku. Biasanya akan terjadi proses penggencetan dan pelemparan muka ke arah lain (pura-pura tidak melihat dan tidak peduli).

Sebagai orang yang terakhir naik, ternyata Anda memang diharapkan untuk mengalah. Anda harus membiarkan punggung Anda tidak menempel dan bersandar (beberapa orang bilang bahwa itu sudah konsekuensi orang terakhir). Wow, ternyata begitu yah, ada peraturan tidak tertulis yang dipraktekkan di dalam ber-angkot-ria.

Untuk pengguna bis besar (apalagi yang sumpek), beberapa orang (yang belum pernah kecopetan atau sang copet sendiri) lebih suka berdiri di depan pintu agar mudah untuk turun (alasan klasik). Sehingga pengguna baru akan kesulitan untuk memasuki bis dan berdempet-dempet ria di depan pintu bis. Tahukah Anda semua, jika Anda bukan gerombolan copet atau kenek, jangan biasakan berdiri di depan pintu, masuklah ke dalam dan cari tempat berdiri yang aman. Anda akan sangat membantu pengguna lain yang memang membutuhkan jasa yang sama. Dengan Anda masuk ke dalam, Anda membantu penumpang agar tidak menjadi korban pencopetan.

Tapi tahukah Anda, bahwa yang membuat bis penuh ternyata beberapa penggunanya tidak membayar ongkosnya (kejadian yang lebih menakutkan terjadi pada kereta api, hampir setengah pengguna gerbong tidak memiliki tiket). Sebagai orang yang membayar ongkos dan melihat orang lain tidak membayar, saya merasa kesal. Jika saja orang-orang yang tidak membayar itu turun, tentunya bis tidak akan terlalu penuh.

Kejadian ini sering saya lihat pada saat pulang ataupun pergi bekerja. Dan beberapa trik yang dilakukan oleh para pengguna agar tidak bayar ongkospun beragam. Beberapa waktu lalu, saat saya di daerah Gatot Subroto, sekitar jam 5 saat kantor bubaran, saya menaiki Metromini 640 ke arah Sudirman. Saya naik dari Menara Jamsostek Gatot Subroto, di sebelah saya ada seorang wanita pekerja. Kebiasaan saya sebelum naik angkot, saya sudah mempersiapkan ongkos di telapak tangan atau saya letakkan di kantong baju/celana agar saya tidak repot nantinya. Saya berpikir, jika saya repot membuka tas dan dompet, bukan tidak mungkin ada gerombolan copet yang mengamati dan akhirnya mengintai saya untuk mengambil barang yang saya bawa.

Kembali kepada pekerja wanita itu, saat sang kenek mengambil ongkos, dengan tergesa-gesa dia merogoh tasnya mencari uang 2000 perak. Tapi ternyata tidak ketemu dan sang kenek masih berdiri menunggu dan akhirnya wanita itu bilang, nanti. Sang kenek berlalu dan melanjutkan tugasnya berteriak mencari penumpang. Sampai di halte LIPI, sang wanita sudah menemukan uangnya dan kehadirannya sudah terhalangi oleh penumpang lain sehingga tidak terlihat oleh sang kenek. Akhirnya sampai Komdak, sang wanita turun dan berlalu begitu saja di hadapan sang kenek tanpa membayar.

Kejadian lain yang saya lihat, adalah di daerah Sudirman. Naik 5 orang, 2 lelaki dan 3 orang wanita (saya mendapat tempat duduk di belakang, di dekat pintu). Kenek masih ada di depan dan belum menagih ongkos. Saat kenek ke belakang, kelima orang itu sibuk dengan urusannya masing-masing. 1 orang lelaki (berjanggut) sibuk dengan hpnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. 2 orang wanita, berbicara satu sama lain dan membuang muka saat sang kenek mengocok-ngocok recehan logam di tangannya. Menyedihkan? Sangat!!!

Kejadian hari Jum’at kemaren yang sungguh mengecewakan saya karena pelakunya muslim wanita berjeans. Dia naik berdua dengan teman wanitanya (tidak berpakaian muslim) dari Setia Budi. Sang wanita biasa mengambil ongkosnya dan menggenggam uang 2000 perak itu di tangannya. Saat sang kenek Metromini 15 datang (dan tidak melakukan apa-apa karena tidak mengetahui bahwa ada pengguna baru naik) kedua wanita itu diam saja dan sibuk berbicara mengenai pekerjaannya. Akhirnya, bangku di sebelah saya kosong, dan sang wanita biasa duduk. Saya yang melihat uang masih di genggaman tangan akhirnya berbisik kepada wanita biasa ini.

“Maaf, Mba. Baru naik kan yah, kayaknya Abang keneknya tidak tahu. Kalau mau membayar langsung di kasih aja. Sayang kan hanya karena duit 2000 jadi bikin dosa.”

“Oh, iya, lupa.” Lalu saat kenek itu kembali, sang wanita biasa memberikan uang ongkosnya. Dan sang wanita muslim? Dengan tampang cuek diam saja dan tidak membayar.

Hahaaaaa, kadang memang manusia lupa dan selalu membuat dosa. Dari kalangan rakyat biasa sampai rakyat luar biasa. Kesempatan setiap orang untuk lupa dan berbuat dosa berlainan. Bisa cuma karena 2000 perak sampai 2 milyar, cuma kondisi saja yang berbeda tapi praktekknya sama. Jika si 2000 perak ada di posisi 2 milyar, bukan tidak mungkin dia akan melakukan ke-lupa-an yang sama saat dia berada di 2000 perak.

Memang kesempatan untuk berhemat saat tidak harus membayar ongkos angkot karena kebodohan sang kenek yang kurang agresif sepenuhnya bukan kesalahan pengguna bis. “Bukan kesalahan gue dong, dia yang gak nagih,” begitu alasan beberapa orang. Tapi bagi saya pengguna yang bayar, saya lebih suka Anda tidak naik, Anda membuat bis yang saya naiki jadi penuh, panas, dan tidak aman. Saya lebih suka Anda yang memang tidak punya uang melakukan sesuatu agar tetap dapat sampai di tujuan Anda, misal dengan pura-pura mengamen.

Saya mengerti uang 2000 perak itu nilainya berbeda bagi semua orang, tapi bukankah kewajiban kita untuk membayar tanpa perlu di tagih, untuk mengingatkan jika yang lain lupa, untuk saling melindungi jika yang lain benar. Keluh kesah ini mungkin tidak akan menjadikan angkot di Jakarta menjadi semakin baik atau perilaku ber-angkot-ria menjadi nyaman dan aman. Tapi semoga membantu mengingatkan semua kalangan pengguna angkot agar bersikap lebih manusiawi dan membayar apa yang Anda ambil (gunakan).

Jakarta Lebih Baik? Pasti bisa…


Posted on: October 13, 2012admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up