Banjir versus Kerja

Spread the love

17 Januari 2013, sekitar jam 7:30 pagi, ditengah derasnya hujan yang melanda Jakarta, saya masih menyempatkan diri untuk berangkat. Ibu dirumah yang sedang memasak untuk berdagang nasi sempat meminta saya untuk tidak berangkat kerja karena didepan rumah, ketinggian air sudah mencapai bawah dengkul saya. Tapi saya tetap pergi bekerja karena tujuan bekerja adalah mendapatkan penghasilan untuk kehidupan masa sekarang dan masa depan.

Dengan menggulung celana di atas dengkul, saya berjalan kearah jalan raya menunggu mikrolet M01 arah Senen. Didaerah gang rumah saya, beberapa tetangga sudah mulai berbenah dan ada yang sudah kemasukan air dirumahnya. Setelah melewati gang rumah, dijalan raya keadaan lebih parah lagi, yaitu mencapai atas dengkul saya. Saya menepi untuk menunggu mikrolet datang, tapi sudah 15 menit berdiri dan tidak terlihat tanda-tanda mikrolet beroperasi, saya mulai menyebrangi lautan banjir itu, sekitar 300 meter jaraknya. Beberapa motor mulai didorong dan orang-orang dewasa membereskan beberapa peralatan yang hanyut terbawa air.

Akhirnya saya mendapatkan mikrolet lain, yaitu M35, dan mencapai Senen 15 menit kemudian. Hujan yang tadinya cuma gerimis kecil, tiba2 berubah menjadi deras, payung dan jas hujan yang saya pakai sudah bertaburan air hujan. Saya berteduh disebrang proyek Senen yang fenomenal itu. Tapi ternyata, bis 507 / P14 yang menjadi rute saya menuju Tanah Abang tidak kelihatan juga. Hampir putus asa, saya melihat P07 dengan rute Grogol, saya langsung menaikinya dengan berpikir saya akan menyambung mobil lain nanti di Harmoni. Setelah membayar ongkos dan mendapat tempat duduk, bis berjalan dan mencapai lampu merah depan Atrium Senen. Tak disangka, jalur sudah tertutup oleh lalu lalang kendaraan yang saling berdesakan tidak mentaati peraturan. Sudah lebih dari 10x berganti lampu hijau, bis yang saya tumpangi masih terdiam di Senen. Akhirnya supir bis tidak ingin melanjutkan perjalanan dan memilih memutar balik ke Pulo Gadung, saya turun dan memutuskan untuk berjalan kearah Tugu Tani.

Saya berjalan bersama seorang Bapak dan seorang Ibu yang akan bekerja juga, dijalanan ketinggian air yang saya lewati sekitar dengkul saya. Tidak ada ojek yang lewat kala itu, kalau sampai adapun, saya merasa kasihan kepada sang tukang ojek yang akan sengsara mengantarkan saya.


Kendaraan sudah tidak beraturan sehingga menyebabkan macet, saya terus berjalan kearah Thamrin. Sampai didaerah Thamrin, jalanan sebelah gedung BI terendam air setinggi paha saya. Saya melihat ada orang lain yang bersama menyebrang kearah sana, saya mengikutinya dari belakang. Gerimis masih setia turun, dan kaki saya sudah mulai pegal dan gatal karena memakai sendal jepit. Bersama orang-orang lain, saya mulai menyusuri jalan kearah Tanah Abang dengan diguyur gerimis hujan rintik-rintik.

Akhirnya, sampai juga saya didaerah Tanah Abang, tepatnya di jalan Baru. Saya melihat banyak mobil yang akan kearah flyover atas tapi berhenti, ternyata stasiun Tanah Abang terendam banjir berkat sungai disebelahnya meluap. Jalan flyover keatas yang akan saya lalui ke arah Petamburan, banjir lebih merajalela karena bersebelahan dengan sungai yang meluap. Kaki saya yang sudah melangkah keatas flyover dan berjalan kearah turunannnya, berhenti mendadak. Saya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan ini, saya berhenti bersama dengan orang-orang lain yang melihat air disungai mengalir deras. Beberapa warga yang rumahnya disebelah sungai, terlihat berjalan kearah yang lebih tinggi, anak-anak kecil berenang bermain.

Yang ada dipikiran saya saat itu hanya pulang, segera melihat rumah saya dan Ibu saya yang sedang berdagang. Saya berputar kembali kearah Senen. Dengan berjalan setengah kencang, saya menyusuri jalan sebelah Hotel Millenium, tapi disuruh berputar oleh beberapa orang disana. Akhirnya saya melewati jalanan disebelah Indosat, tapi ternyata saya merasa itu malah lebih parah (dibanding sebelumnya saat saya melangkah kearah Tanah Abang saya sudah melewati jalan ini). Beberapa satpam dan pegawai kantor Indosat dan BI terlihat memotret keadaan banjir. Saya ingin sekali berjalan melewati parkiran kantor tersebut karena letak mereka lebih tinggi dari jalan tapi melihat keangkuhan para satpam dan pegawai yang tidak sama sekali menawarkan padahal melihat banyak orang yang kesusahan, saya mengurungkan niat dan melewati banjir.

Akhirnya saya sampai di patung kuda, dan menemukan ojek yang bersedia mengantarkan saya tapi hanya sampai perempatan Senen, yaitu didepan Gunung Agung. Saya sangat berterimakasih, karena akhirnya saya dapat menghemat waktu dan tenaga. Ojek melaju ditengah gerimis, sampai didepan gedung Timor (sekolah saya dulu di jalan Batu, lupa namanya sekarang berubah jadi apa), genangan air membuat saya khawatir akan mematikan mesin motor. Tapi saya sampai juga diperempatan Senen, membayar ojek dan menyebrang jalan untuk melanjutkan pulang kerumah.


Didepan Senen yang biasanya banyak ojek sangat langka hari ini. Saya sudah berjalan kearah Kp. Rawa dan sampai didaerah Pasar Gaplok, saya mendapatkan tukang becak dan memanggilnya. Alhamdulillah, si abang becak masih mau mengangkut dan mengantar saya ditengah banjir daerah rumah saya. Air banjir sampai masuk kedalam becak dan mengenai kaki saya. Saya melihat, jalan raya kearah rumah saya masih banjir dan belum ada tanda-tanda surut. Akhirnya saya sampai rumah dan melewati gang rumah yang mulai banyak orang dan anak kecil yang berenang gembira, sedengkul banjir didaerah gang rumah. Saya melihat istri saudara saya yang sedang melayani pembeli dagangan nasi Ibu saya dan keponakan kecil saya yang hanya bercelana kolor.

Bahagia rasanya bisa bersama keluarga saya kembali, pulang kerumah, makan masakan Ibu saya, menemani keponakan saya bermain air hujan dan mengajaknya jalan2 keluar untuk menonton banjir. Saya jadi berpikir terus dalam hati apakah saya akan melakukan kebodohan yang sama jika hal seperti banjir besar ini terjadi lagi, yaitu jauh dari keluarga saya dan meninggalkan Ibu saya, dan saya sudah berjanji tidak akan mementingkan pekerjaan saya lagi. Keselamatan Ibu dan keluarga saya yang terpenting bagi saya dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh apapun didunia ini.

18 Januari 2013, saya sudah bisa masuk kantor walau keadaan Tanah Abang masih banjir. Beberapa teman saya mengunjungi klien untuk bekerja. Tapi yang membuat saya sedih dan marah adalah absen saya yang tidak masuk akibatnya jatah cuti saya terpotong. Saya mendapati beberapa teman saya ternyata tidak berada dikliennya, tapi dirumah, tapi karena sudah absen ke klien, jadi otomatis dia tidak mendapat potongan cuti. Saya merasa ketidakadilan ini, tapi saya tidka mungkin memberitahu pihak absensi untuk memeriksa satu persatu karyawan yang tidak masuk banjir hari Kamis kemaren, 17 Januari 2013, kan???

Senin, 21 Januari 2013, saya dibuat bahagia oleh kebijaksanaan Direktur dikantor saya bekerja. Untuk tanggal 17 dan 18 bagi karyawan yang tidak masuk ataupun terlambat masuk, diperbolehkan melakukan pemulihan cuti dan absen dikarenakan bencana banjir. So, cuti saya aman tidak terpotong dan absen terlambat satu hari saya sudah dipulihkan sediakala. Terimakasih Pak Direktur, semoga kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, kebaikan, kerendah-hatian, kebaikan budi selalu menyertai Anda dan semoga ALLAH SWT selalu melindungi Anda dan perusahaan yang Anda pimpin saat ini. Amin.

Posted on: January 18, 2013admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up