My Journey

Bangkok Holidays

1 Maret 2013, sekitar jam 3:30 pagi, saya berangkat dari rumah diantar adik lelaki saya dengan motor untuk ke kantor. Bukan untuk bekerja, tapi untuk ikut rombongan yang akan ke bandara CGK liburan ke Bangkok, heheheee… Ini tahun ketiga saya bekerja di kantor saya, dan liburan luar negeri ketiga saya juga yang gratis dibiayai kantor, kecuali untuk oleh2 dan paspor yah… Sampai di kantor saya di daerah Kemandoran jam 4:00 dan berangkat kebandara jam 4:30. Sekitar jam 5:10 menit sampai di bandara, sudah terlihat banyak orang di antrian menuju Bangkok. Cepat2 rombongan kami mulai mengantri.


Saat mengantri, saya melihat teman saya membawa koper yang isinya masih kosong, dan saya meminta ijinnya untuk dapat menitipkan tas saya di dalam kopernya agar tidak perlu bersusah payah membawanya ke kabin. Saya melihat teman saya tersebut menempelkan stiker nama dikopernya, akhirnya saya hanya membawa long pasport organizer saya ke dalam kabin pesawat dan menitipkan tas saya dikoper teman saya. Setelah selesai mengantri, kami mulai menuju imigrasi. Tanpa menunggu lama, pesawat sudah tiba dan kami mulai memasuki dan mencari tempat duduk, menyenangkan, saya mendapat duduk di tepi sehingga dapat melihat pemandangan.

Sampai di Bangkok, bandara Suvarnabhumi sekitar jam 11:10, dan sudah terlihat antrian luar biasa dari para turis. Beberapa teman saya terlihat belum menerima dan mengisi form kedatangan yang harus diserahkan kepada bagian imigrasi sehingga mereka mulai berpencar mencari2 formnya. Saya menemani teman saya untuk menunggunya karena tas saya berada dikopernya.


Akhirnya bisa dapat dan mengantri di imigrasi. Setelah keluar mulai menuju pengambilan bagasi. Ternyata koper teman saya tidak ada, dan ada satu koper yang mirip dengan miliknya masih ada di roller. Kami masih menunggu sampai roller bagasi berhenti dan baru yakin bahwa ada orang lain yang salah mengambil koper dikarenakan sama ukuran dan gambarnya (padahal koper teman saya sudah di beri nama dan di label). Pasrah yang ada, berpikir bagaimana dengan baju ganti dan semua peralatan (termasuk charger, teropong, dll) yang sudah sengaja disiapkan untuk liburan kali ini.


Saya melihat teman saya akan mulai menangis dan saya menemaninya untuk membuat laporan. Akibat kejadian ini, beberapa agenda jadi terbengkalai. Bos kami ikut membantu dan begitu juga guide tour yang sudah kami pesan. Terpaksa rombongan berpisah, yang lain menuju restoran untuk makan siang, sementara saya, teman, dan bos saya serta guide tour mencoba mengurus koper yang salah ambil itu. Kami membawa koper yang tertinggal tersebut dan menyerahkannya kepada bagian yang bersangkutan dan meminta untuk mencari siapa pemilik koper tersebut berdasarkan nomor bagasi yang tertempel diluar koper. Tapi sepertinya masalah bahasa menjadi kendala, karena pengurusan ini memakan waktu hampir 2 jam lebih dan akhirnya kami makan dibandara, Tate cafe.

Kami bergabung kembali dengan anggota tour lainnya untuk melanjutkan acara. Hati masih dalam keadaan bingung karena hanya baju yang melekat di badan saja yang tersisa, dan dengan senyum merekah saya berpikir mungkin ini saatnya untuk berbelanja kembali (walaupun beberapa baju dan celana yang saya bawa dari Indon adalah baru). Saya tidak ingin kejadian ini merusak rencana bersenang2 saya untuk kesehatan pribadi, so, I must get fun!!!


Pemberhentian pertama kami adalah Floating Market. Pasar yang berada di dekat sungai dan beberapa pedagang menggunakan perahu. Beberapa makanan patut di coba di tempat ini, seperti ketan susu mangga (di Indon seperti ketan durian), martabak mangga / durian, dan makanan kecil lainnya. Di tempat ini banyak kaos dengan tulisan ‘Bangkok’, makanan ekstrimnya juga ada (serangga dan lainnya), dan beberapa tas serta kerajinan tangan.

Pada malam harinya kami mengunjungi tempat hiburan Pattaya. Di daerah Pattaya ini banyak sekali show untuk memanjakan mata turis yang menyenangi dunia hiburan. Beberapa tempat yang terlihat antrian di depan pintunya adalah ‘Tiger Show’, ‘Man Show’, dan show2 khas dunia malam lainnya, bahkan ada restoran di pinggir jalan yang menyediakan para penari sexy. Beberapa penari terlihat duduk di bangku2 restoran yang sudah disediakan dan berusaha menarik perhatian para pejalan kaki. Beberapa customer sudah banyak yang berfoto sambil memeluk para penari yang memberikan pertunjukan menarik.

Yang saya tonton adalah Tiffany Show, pertunjukan kabaret dari para ‘Bencong Bangkok’ (beberapa teman saya menonton Tiger Show yang konon katanya menggairahkan). Selesai menonton Tiffany Show, para pemain sudah ada di tempat keluar dan membiarkan para penonton untuk dapat mengabadikan moment bersama. Kadang para ‘Bencong’ menarik beberapa penonton pria untuk berfoto dan setelah selesai meminta bayaran beberapa puluh bath. Jadi iri melihat mereka begitu cantik dan sexy sampai mengalahkan semua penonton wanita yang ada pada malam itu, miris rasanya, heheheeee….

Selesai menonton, kami ke hotel untuk check in, yaitu ‘Century Pattaya Hotel’. Ada beberapa teman yang keluar lagi dan pergi berjalan2 di daerah sekitar dan ada juga yang mengunjungi ‘Hard Rock cafe’, tapi saya memilih tidur dan menyiapkan kaos putih (yang baru saya beli) untuk mengunjungi ‘Istana’ besok pagi. Untuk hotel, saya tidak terlalu senang karena ternyata tidak tersedia sikat gigi, odol, dan juga hair dryer, tidak seperti hotel yang saya tempati saat berkunjung ke Vietnam (cuma shampoo dan sabun), mungkin tergantung tour guide yang kita sewa yah. Pagi2 sekali, sekitar jam 5, sudah ada ‘morning call’ dan kami harus bersiap2 untuk breakfast serta check out hotel untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok City.


Tujuan kami berikutnya adalah Grand Palace dan Emerald Buddha Temple. Untuk masuk ke dalam Grand Palace / Istana Raja, peserta diwajibkan untuk berpakaian sopan yaitu tidak boleh memakai celana pendek dan baju lengan pendek (seketiak). Kami juga mengunjungi ‘Sleeping Budha’ dan saya sangat terpesona dengan patung ini karena sangat besar dan panjang. mengunjungi Chaophaya River, kami diceritakan tentang kegiatan yang sering dilakukan di sana yaitu memberi makan ikan, dan kami ditawarkan untuk membeli roti tawar seharga 20 bath. Saya membeli satu dan melemparkan potongan2 roti ke dalam air. Senang rasanya melihat ikan2 saling berebutan memakan roti yang kami lempar, dan ikannya sangat2 besar berwarna gelap. Akhirnya kami sampai di Wat Arun, tempat belanja lainnya. Setelah selesai belanja, kami menuju restoran yang sudah dipesan, sayangnya jalan macet sehingga restoran sudah tutup (restoran di dalam hotel dan ada jam operasionalnya), dan kamipun menuju tempat lainnya untuk makan.

Setelah selesai makan, kami melanjutkan perjalan ke Wat Pho dan Wat Trimit, tempat kuil2 dan kerajinan tangan khas Thailand. Tiada hari tanpa belanja, karena selepas dari kuil kami mengunjungi Chatucak Weekend Market. Pasar ini mirip seperti pasar kebanyakan yang ada di Indon. Beragam macam pedagang tumplek ruah di sini. Kaos2 dan celana2 murah, makanan2 ringan untuk oleh2, kerajinan khas Bangkok, dan pastinya beragam fashion yang dapat dinikmati selama perjalanan di dalam pasar. Jika tidak tahan dengan kepanasan dan keriuhan pasar, di sebelah pasar, terdapat sebuah mall, JJ Mall, yang lebih adem dan bersih, so, tinggal pilih aja… Pasar Chatucak dan JJ Mall pasti sangat berbeda dalam segi barang dan harga, tergantung kebutuhan dan tujuan dari para turis.


Tapi sayangnya, pasar ini berbahaya karena banyak pencopetan dan hipnotis. Teman saya menjadi korbannya dan kehilangan uang sebesar 5000 bath. Hati2 yah kalau kemari, selalu waspada dan usahakan jangan melamun atau berjalan sendirian… Dan ngomong2, saya mendapat kabar bahwa koper teman saya sudah dikembalikan karena kesalahan pengambilan. Akhirnya, malam ini saya bisa berganti pakaian sesuai dengan yang saya rencanakan dan tidak perlu membeli tas baru untuk membawa oleh2 yang saya beli.

Selesai di Chatucak, kami berangkat ke ‘Dynasty’ hotel untuk check in. Ternyata Hotelnya tidak lebih baik dari sebelumnya, malah lebih parah, karena kamar mandi yang saya tempati atapnya bocor, shower mandinya terpantek di tembok sehingga tidak bisa digunakan leluasa, harus dengan posisi berdiri, sehingga membuat susah ketika harus menggunakan kloset. Selesai masuk kamar, beberapa teman berjalan2 di pasar di dekat hotel sampai jam 11 malam, lalu saya tidur dengan lelap untuk menunggu kepulangan esok hari. Jam 6 pagi, morning call sudah berbunyi, saya yang pertama mandi. Selesai mandi, saya membereskan isi tas dan bersiap2 untuk breakfast.


Seperti biasa, hotel dipenuhi oleh orang Indon, dan sangat mambuat jenuh serta malas karena mereka membawa kebiasaan jelek mereka kembali di Bangkok, yaitu tukang nyelak dan tidak tahu malu. Teman saya di serobot saat memasuki lift dan terinjak kakinya tanpa ada permintaan maaf. I really hate them, Bad Indon people!!! Saat makanpun mereka berkelakuan seperti binatang, menyerobot antrian dan seperti orang kelaparan dan sebagai WNI saya sangat malu dengan perbuatan mereka, khususnya kaum wanita yang menggunakan perban dikepalanya, karena setahu saya mereka di anggap sebagai wanita baik2 karena menutup kepalanya (tapi tidak tubuhnya).


Jam 8, kami selesai breakfast dan melanjutkan perjalan ke Thepprasit Brand, sebuah tempat khusus penjualan madu berkualitas, tapi sayangnya saya tidak membelinya untuk dibawa pulang ke Indon karena persediaan madu saya masih banyak dirumah, saya hanya membeli coklat yang dijual di tempat itu. Akhirnya kami tiba di bandara Suvarnabhumi untuk pulang, sebagian dari kami masih melanjutkan tour untuk 1 hari lagi sehingga rombongan terpisahkan. Bersama 24 orang lainnya, saya mulai menuju pengecekan imigrasi, mengurus boarding dan bagasi. Ada banyak petugas imigrasi yang berada di konternya, hampir 30 konter yang buka untuk melayani para pengguna pesawat.


Tiba di Indon, dihadapkan pada antrian yang membludak pada pintu kedatangan. Beberapa turis yang datang berbicara tidak suka dengan keadaan ini karena petugas imigrasi hanya 3 orang, sementara antrian sudah sampai halaman parkir. Pihak imigrasi beralasan bahwa ada pergantian shift kerja dan dengan bodohnya tidak mengetahui bahwa pada jam tersebut ada banyak pesawat yang mendarat sehingga tidak bisa mengantisipasi antrian yang mulai memanas. Dorong2 dan gencet2 mulai terjadi dan perlakuan tidak menyenangkan beberapa kali terjadi seperti keinjak kaki dan dorongan keras pada punggung. Karena sering di selak, akhirnya dengan usaha keras saya bisa melewati pintu imigrasi dan mengurus bagasi saya.

Vietnam Holidays

5 Mei 2012, dengan tiket promo dari Air Asia, berangkat dengan penerbangan QZ7736, rombongan kantor menuju Terminal 3, Soekarno Hatta International Airport. Tujuan Ho Chi Minh, Tan Son Nhat International Airport, tiba sekitar jam 8 malam, melewati pihak imigrasi dan ahirnya bertemu dengan Guide tour kami yaitu ‘NYI’. Nyi cantik dan malam itu mengenakan pakaian tradisional negaranya yang seperti kimono cantik berwarna orange. Woo, fasih berbahasa Indonesia. Nyi mulai memperkenalkan diri dan memberitahu beberapa hal dasar yang perlu diketahui tentang Vietnam.


Beberapa kata-katanya membuat tertawa, terutama soal kata uang yaitu ‘Dong’, ‘ada uang – lot dong, tidak ada uang – no dong’. Kami diantar kesebuah rumah makan dan sudah disediakan makanan khas Vietnam, dan mie yang disediakan sangat mantap (ukuran jumbo) serta beberapa gorengan seperti risol yang sangat enak. Sebagai munumnya sebuah kelapa segar yang sangat nikmat menemani kelelahan di dalam pesawat yang kebetulan tidak mendapat makanan apa2 (hehhee, kelas ekonomi promo). Setelah selesai makan, kami diantarkan ke hotel kami yaitu Blue Diamond Hotel, deket dengan Ben Thanh market. So, selesai taruh tas di kamar dan cuci muka, shopping malam hari dimulai.

Jam 6 pagi, morning call berbunyi untuk membangunkan dan mengingatkan agar kami segera bersiap-siap untuk jadwal tour berikutnya. Breakfast di hotel, saya memesan nasi putih (yang kebetulan tidak disediakan di sana) sambil membuka persediaan rendang daging yang sudah Ibu saya sediakan. Mantap!!! Selesai sarapan pagi, kami bergegas menuju bus. Berfoto di tugu yang menjadi tempat sang pahlawan Vietnam berada. Persinggahan kami berikutnya adalah My Tho untuk menuju Mekong dengan menaiki perahu. Di tempat ini, kami melihat perkampungan dan mencoba makanan yang dijual disana, seperti madu, permen, dan melihat pertunjukkan tradisional mereka sambil disediakan beberapa piring berisi buah dan kacang.

Selesai ditempat ini, kami menaiki perahu yang muat 4 orang untuk kembali ke dermaga, ketempat bus parkir. Wow, tidak menyangka perjalanan dengan perahu ini menyenangkan sekali. Perahu dukayuh oleh 2 orang, 1 orang wanita di bagian depan dan 1 orang lelaki di bagian belakang. Pemandangan dibeberapa tempat mirip dengan perkampungan pada umumnya, namun lebih terjaga kebersihannya. Sekitar 20 menit menaiki perahu dan beberapa kali berkejaran dengan perahu lainnya yang sudah berjalan mendahului menambah pengalaman tersendiri.

Selanjutnya, Vinh Trang Pagoda tujuan kami. Panas keadaan saat itu, jadi acara pengambilan foto berlangsung cepat dan tepat tanpa mencoba berlama-lama. Selesai di Vinh Trang Pagoda, kamu kembali ke Saigon untuk menikmati pertunjukan wayang air. Apa bedanya yah, itu yang ada dipikiran saya pertama kali melihat karena saya tetap melihat boneka dimainkan cuma bedanya ada diatas air. Ternyata memang berbeda, selain bahasanya (hehhe, tidak mengerti, untungnya cerita yang dibawakan lucu dan gerakan dari para boneka membuat pengertian tersendiri), ternyata para wayang yang memainkannyapun berendam bersama dengan boneka mereka selama pertunjukkan dan mereka begitu kompak serta tampan saat selesai menunjukkan wajah di balik layar.

Selanjutnya, makan malam di kapal laut yang berlayar selama 1 jam (pengennya sih seperti Titanic, tapi ini cukup menarik). Sesampainya kamu di dalam kapal laut, kami disuguhkan makanan dan tanpa sungkan2 langsung menyantapnya. Kebetulan kami makan di lantai bawah kapal. Setelah selesai makan, kami menuju lantai atas untuk melihat pertunjukkan menari (ternyata salah tempat, soalnya di lantai bawah, tempat kami makan tadi, itu pertunjukkan menari juga, tapi dengan busana pantai, pastinya lebih menarik yah, heheheee). Selesai perjalan dengan kapal, kami balik kehotel, dan yang masih kuat tetap berjalan2 di Ben Thanh market untuk membeli oleh2.

Keesokan hari, seperti biasa, jam 6 morning call sudah berbunyi, makan pagi, packing untuk persiapan pulang malam harinya, dan bersiap-siap untuk jadwal tour berikutnya. renunification Palace, Notre Dame Cathedral menjadi tujuan pertama kami. Mengunjungi Kantor Pos sambil mencari oleh2 dan barang2 unik dari Vietnam, serta ke museum Perang.

Dan tempat berikutnya adalah tempat yang paling mendebarkan yaitu hutan area pertempuran perang Vietnam. Kami diperlihatkan beberapa lorong rahasia, dapur umum, senjata, jebakan mematikan, dan tayangan tentang perang Vietnam. Tempat itu dibeberapa bagian sangat menakutkan dan menyeramkan, terutama penjara, terowongan tempat mereka bersembunyi dan tempat sembelih kepala para tahanan.

Setelah selesai, kami makan siang di restoran setempat yang sangat lezat dan seperti biasa, sangat menyenangkan. Akhirnya waktu untuk pulang telah tiba, harus bersiap-siap untuk ke Jakarta. Terimakasih Nyi, pengalaman yang sangat menyenangkan dan membuat fresh.

Singapore Holidays

9 – 11 April 2011…

Tahun 2011, kantor saya pertama kali mengadakan perjalanan keluar negeri. Pada kesempatan ini, terbagi 2 kelompok yang mempunyai tujuan berbeda, dan sialnya, saya memilih kelompok yang salah.

Bukan maksud menjelekkan orang lain, hanya ingin memantapkan diri agar jangan pernah ada lagi rasa tidak enak hati di kala akan memilih sesuatu. Hal pertama yang membuat jalan-jalan kali ini kurang berkesan karena terbagi 2 kelompok dan tidak ada tour guide dan travel bus.

Saya memilih ikut bersama kelompok programmer, karena saya melihat ada beberapa dari mereka yang sudah sering ke Singapura dan memiliki keluarga berdagang di sini. Kelompok yang satu lagi, berisi rombongan bos kantor, sehingga saya merasa mungkin akan kurang bebas bergerak.

Tapi ternyata saya salah perhitungan… Rombongan saya yang kebanyakan sudah pernah ke Singapura, hanya mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya, jadi beberapa tempat indah dan wajib foto terlewati. Itu baru hal yang pertama yang menjadi alasannya.

Yang kedua, kelompok saya lebih banyak menghabiskan waktu di Orchard Road dan didalam mall, sedangkan untuk membeli oleh-oleh tidak seharusnya memasuki mall yang bandrol harganya terlalu mahal dan tidak bervariasi. Beberapa dari mereka karena saking senangnya dan menjadi ketua kelompok, akhirnya malah berlama-lama di dalam mall sehingga waktu untuk ke pasar tradisional menjadi berkurang, hanya 20 menit.

Helllooooo, mana mungkin mengitari pasar tradisional hanya dalam waktu 20 menit dan memilih oleh-oleh. Benar-benar sial…

So, next time, saya sudah mencari kelompok saya sendiri yang isi kantongnya cukup untuk pasar tradisional, yang kakinya masih senang melangkah kesana-kemari di tempat yang agak panas, yang matanya jelalatan melihat cinderamata dengan harga terjangkau untuk oleh-oleh, dan tentunya makanan gratis yang dijajakan di kios-kios oleh-oleh makanan. Singapura, sepertinya saya tidak akan kembali kepadamu… Karena masih banyak tempat bagus lainnya untuk dikunjungi dan tidak perlu mengulang kesalahan pernah menghampirimu sebelumnya…


Scroll Up