About Work

Serangan Konde

Setiap hari dan jam kerja, saya senang bertemu dan memperhatikan para jilbaber dan hijaber yang lalu lalang dan satu gerbong di commuter line yang saya naiki. Cuci mata dan menambah pengetahuan, apalagi sekarang ada TV gratis yang berisi banyak iklan dan tips di commuter line. Tips yang sering saya lihat adalah mengenakan jilbab (bukan hijab) trendy dan masa kini.


Sayangnya, di video tutorial tersebut juga mengajarkan pada jilbaber (bukan hijaber) untuk menggulung rambutnya menjadi konde dan itu sangat mengganggu di dalam gerbong. Bayangkan, dengan bentuk lekuk tubuh manusia perempuan, yang seharusnya menonjol adalah dada dibagian depan dan bokong dibagian belakang, sekarang harus ditambah dengan kepala dibagian atas. Dan tak tanggung2, tanpa merasa bersalah para konde-ers ini sering menggeleng2kan kepalanya (ada kabel headphone terlihat dibalik jilbabnya) dan menyenggol wajah orang lain yang kebetulan berada dibelakangnya.

“Loh, itukan emang nasib naik kendaraan umum, pasti ada aja kelakuan dan orang yang gak bener”. Bener juga, 100% saya setuju, karena saya menyukai jilbab dan hijab dan yang tidak saya suka adalah si pemakai jilbab (bukan hijab). “Kenapa sih dari tadi ada kalimat ‘jilbab bukan hijab’ terus?” Yah, beda dong bu dan pak. Hijab lebih kepada melindungi diri si pemakai karena benar2 menutupi dari kepala sampai kaki sedang jilbab hanya hiasan di atas kepala selayaknya topi pantai yang sering digunakan atau konde panjang yang berwarna-warni. “Hm, sok tau.” Ya, bener, daripada gak tahu tapi pura2 tahu.


Balik lagi ke kejadian konde di commuter line. Dengan ikatan yang lumayan kenceng itu, konde2 itu terus bertambah dan kalau kesenggol sedikit, sang pemilik konde menampilkan wajah asemnya selayaknya manusia tanpa konde jika menghadapi masalah. So, ternyata gak jauh berbeda dengan manusia yang memakai topi sikapnya. Sepengetahuan saya, tidak disarankan membentuk rambut saat mengenakan jilbab. “Jilbabnya kan cuma sebahu, makanya itu di sanggul”. Loh, gak ada aturan yang menghalalkan jilbab cuma sebahu. Dianjurkan jilbab menutupi tubuh bagian atas termasuk dada, dan jika memiliki bokong yang besar dan terlihat mempesona kaum adam, lebih baik lagi jilbabnya menutupi sampai bokong.

Nah, kalau jilbab sudah sampai bokong, si pemilik dengan mudah dapat mengepang atau mengikat atau menggerai rambut di dalam jilbab. “Wuiih, nanti gatal kalo gitu”. Hm, sepertinya kurang fakta kalau bilang rambut digerai di dalam jilbab bikin gatal. Sudah banyak produk untuk memperbaiki rambut berjilbab (kalau rajin merawatnya yah) dan membuat si pemakai merasa nyaman. Rambut juga tidak menyentuk kulit punggung (karena pakai baju kan) dan rapi terikat dan terbungkus jilbab.


Ini cuma uneg2 pengguna commuter line yang beberapa kali melihat si jilbab asyik bermain hp dan tidak pegangan sehingga kereta berhenti mendadak, konde dijilbabnya dengan mudah melukai orang lain. “Wah, berlebihan, muka kena konde berdarah2, gitu?” Busyet, bu, pinter amat ngomongnya, tapi kok masih jadi pegawai yah. Kalau mau terus dibicarakan, pasti tidak ada hentinya karena sifat asli manusia yang tidak bisa menerima kritikan baik secara manusiawi ataupun hewani. So, saudariku seiman dan seagama dan senegara, tampilan dirimu bisa melukai orang lain (termasuk minyak wangi berlebihan), toleransilah seperti yang sedang kamu lakukan sekarang untuk menuju kebaikan (mengenakan jilbab).

CS vs Kurir

Kisah ini di mulai dari mendengar keluh kesah rekan kerja di kantor yang sedang mengurus ‘Bank Garansi dengan surat keberatan dari Bea Cukai’ via Bank Mandiri cabang Ruko Roxy Mas. Beberapa kali dikeluhkan CS Bank Mandiri yang melayani sangat kurang ajar, tidak profesional dan tidak membantu. Kantor saya mendapatkan bantuan dari vendor untuk mengurus ‘Bank Garansi’ tapi tidak dibantu dengan baik oleh CS Bank Mandiri. CS seakan-akan meremehkan dan menyuruh-nyuruh apa yang harus dilakukan oleh vendor.


Saat keluh kesah berlanjut di kantor, saya nyeletuk ‘Komplain aja langsung, atau lewat online’. Dan teman saya menjawab ‘Kasihan, dia cuma pegawai, nanti kenapa-napa lagi, di mutasi atau di pecat’. Wah, baik sekali, dalam hati saya. Tapi mulut saya ingin mengingatkan rekan saya itu untuk kejadian lainnya, yang berkenaan dengan Kurir Galon Air Mineral. Apa hubungannya??? Haahahaaa, maaf, maaf. Saya jelaskan sekarang. Pernah ada kejadian yang menurut saya agak kelewat batas yang dilakukan rekan kerja saya, dan sekarang terbalik 90″ dari kejadian lalu.


Rekan kantor saya tersebut memesan galon air mineral untuk minum karyawan kantor. Pada saat kurir mengirimnya, ada kesalahpahaman, karena galon tidak dinaikkan ke kantor kami (lantai 4) dan rekan saya meminta kurir untuk mengangkatnya keatas. Saya tidak jelas apa yang dikatakan atau raut muka kurir, karena lain ruangan dengan rekan kerja saya itu. Jadi cuma menguping, dan itu tidak disengaja, karena ruang kantor yang terbatas.


Rekan saya itu lantas menelpon kantor pengiriman galon air mineral tersebut dan melaporkan kejadian dan melakukan komplain terhadap kurir tersebut. ‘Maaf, ini yang ngirim galon sekarang ke kantor saya, besok saya gak mau lagi orangnya ngantar kemari, saya mau ganti kurir lain saja’, kira-kira begitu yang rekan kerja saya ucapkan. Wah, saya merasa kasihan sekali kepada kurir tersebut. Dengan penghasilan dan pekerjaan biasa-biasa saja, dia mudah sekali mendapat kesusahan. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena waktu kejadian itu saya anak baru di kantor, jadi tidak bisa mem-bercandakan suasana tersebut.


Makanya saya jadi bingung, kenapa CS Bank Mandiri yang jelas-jelas lebih menyusahkan dan kurang ajar (sampai menyuruh orang vendor – Bapak Yudi untuk menemui Bapak Hartono – pejabat Bea Cukai) tapi bisa dimaafkan dan tidak diajukan komplain terhadapnya, tapi malah kurir yang kerjanya hanya mengantar air galon langsung di ultimatum? Dan tetap sama, saat kejadian itu saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat rekan saya itu mengeluh, ada staf lain di sana (dan ikut mengasihani sang CS Bank Mandiri) dan saya tidak tega mengingatkan rekan kerja saya atas perbuatannya yang tidak berprikemanusiaan dan tidak berperasaan waktu sebelumnya, lebih-lebih terhadap orang kecil.

Alhamdulillah, Jamsostek cair

Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga. Setelah bekerja dan mendapat potongan setiap bulan untuk jamsostek, akhirnya bisa di ambil walaupun melalui proses berliku.


Pertama mencoba mencairkan di BPJS Ketenagakerjaan dekat ITC Depok. Setelah menunggu lama, sekitar 1 jam, gagal karena kurang dokumen dari perusahaan sebelumnya (kalau selama masa 5 tahun kepesertaan dengan 2 perusahaan yang berbeda harus menyertakan surat dari keduanya), dan keanggotaan belum di non-aktifkan oleh perusahaan terakhir. Keluar dari kantor BPJS dan mendapat pengetahuan dari Security yang bertugas, bahwa pengambilan juga harus melewati masa tenggang 1 bulan dari 5 tahun kepesertaan. Maksudnya, jika kepesertaan saya September 2009 maka baru bisa di ambil setelah 5 tahun + 1 bulan sebagai masa tenggang, yaitu Oktober 2014.


Ok, satu persatu diurus. Menghubungi kantor terakhir dan meminta agar di non-aktifkan, dan karena kebaikan mereka, hanya 1 hari sudah beres. Trims Mba Rika dan Wella dari Metalogic, kalian sangat profesional dan tidak menyusahkan hal yang memang sederhana untuk dilakukan secepat kilat.


Yang kedua, harus menyertakan surat pengalaman kerja dari kantor kedua terakhir. Hmmm, ini agak susah, karena kantor saya sudah berganti nama dan tempat beroperasi. Akhirnya, googling kesana kemari dan menemukan beberapa orang dapat menyerahkan hanya dari kantor terakhir. Dan sebagai usaha berikutnya melakukan panggilan telepon ke Jamsostek dan menanyakan hal tersebut. Dan di sini juga mengalami kendala, CS yang tidak bisa menghitung membuat semakin cemas. CS bilang bahwa saya bisa mengambil bulan Nopember 2014, padahal jelas-jelas di BPJS Depok sudah bisa hanya kurang dokumen saja. Saya tidak mau berdebat panjang, karena hanya akan mengurangi pulsa lebih banyak.

Setelah di non-aktifkan, saya mendapatkan surat tugas dari perusahaan kedua (bukan surat pengalaman kerja), dan berbekal itu saya berangkat ke daerah Gatot Subroto, menara Jamsostek. Masuk dan menuju lantai 2, saya menyerahkan dokumen untuk diperiksa. Setelah selesai tahap pemeriksaan pertama dan mendapat nomor antrian (473). Lumayan lama menunggu sambil melihat petugas yang melayani dan keadaan.

Akhirnya, tiba giliran saya. Dokumen diperiksa, ditanyakan tentang surat keterangan dari perusahaan kedua, dan saya menjawab dengan jujur dan memberikan surat tugas yang masih tersisa, petugas dengan sigap men-cap semua dokumen dan menyiapkan lembar bukti untuk saya. Tidak beberapa lama, saya mendapat kabar bahwa dana saya akan ditransfer, maksimal 1 minggu, dan dokumen asli seperti KTP, KK, dan buku tabungan dikembalikan.

Serasa tak percaya, diberikan kemudahan dalam pengurusan kali ini. Terima kasih kepada Bapak Petugas yang mempermudah urusan orang lain, dan saya berdoa agar semua urusan Bapak Petugas juga di permudah di kemudian hari. Terima kasih.

Banjir versus Kerja

17 Januari 2013, sekitar jam 7:30 pagi, ditengah derasnya hujan yang melanda Jakarta, saya masih menyempatkan diri untuk berangkat. Ibu dirumah yang sedang memasak untuk berdagang nasi sempat meminta saya untuk tidak berangkat kerja karena didepan rumah, ketinggian air sudah mencapai bawah dengkul saya. Tapi saya tetap pergi bekerja karena tujuan bekerja adalah mendapatkan penghasilan untuk kehidupan masa sekarang dan masa depan.

Dengan menggulung celana di atas dengkul, saya berjalan kearah jalan raya menunggu mikrolet M01 arah Senen. Didaerah gang rumah saya, beberapa tetangga sudah mulai berbenah dan ada yang sudah kemasukan air dirumahnya. Setelah melewati gang rumah, dijalan raya keadaan lebih parah lagi, yaitu mencapai atas dengkul saya. Saya menepi untuk menunggu mikrolet datang, tapi sudah 15 menit berdiri dan tidak terlihat tanda-tanda mikrolet beroperasi, saya mulai menyebrangi lautan banjir itu, sekitar 300 meter jaraknya. Beberapa motor mulai didorong dan orang-orang dewasa membereskan beberapa peralatan yang hanyut terbawa air.

Akhirnya saya mendapatkan mikrolet lain, yaitu M35, dan mencapai Senen 15 menit kemudian. Hujan yang tadinya cuma gerimis kecil, tiba2 berubah menjadi deras, payung dan jas hujan yang saya pakai sudah bertaburan air hujan. Saya berteduh disebrang proyek Senen yang fenomenal itu. Tapi ternyata, bis 507 / P14 yang menjadi rute saya menuju Tanah Abang tidak kelihatan juga. Hampir putus asa, saya melihat P07 dengan rute Grogol, saya langsung menaikinya dengan berpikir saya akan menyambung mobil lain nanti di Harmoni. Setelah membayar ongkos dan mendapat tempat duduk, bis berjalan dan mencapai lampu merah depan Atrium Senen. Tak disangka, jalur sudah tertutup oleh lalu lalang kendaraan yang saling berdesakan tidak mentaati peraturan. Sudah lebih dari 10x berganti lampu hijau, bis yang saya tumpangi masih terdiam di Senen. Akhirnya supir bis tidak ingin melanjutkan perjalanan dan memilih memutar balik ke Pulo Gadung, saya turun dan memutuskan untuk berjalan kearah Tugu Tani.

Saya berjalan bersama seorang Bapak dan seorang Ibu yang akan bekerja juga, dijalanan ketinggian air yang saya lewati sekitar dengkul saya. Tidak ada ojek yang lewat kala itu, kalau sampai adapun, saya merasa kasihan kepada sang tukang ojek yang akan sengsara mengantarkan saya.


Kendaraan sudah tidak beraturan sehingga menyebabkan macet, saya terus berjalan kearah Thamrin. Sampai didaerah Thamrin, jalanan sebelah gedung BI terendam air setinggi paha saya. Saya melihat ada orang lain yang bersama menyebrang kearah sana, saya mengikutinya dari belakang. Gerimis masih setia turun, dan kaki saya sudah mulai pegal dan gatal karena memakai sendal jepit. Bersama orang-orang lain, saya mulai menyusuri jalan kearah Tanah Abang dengan diguyur gerimis hujan rintik-rintik.

Akhirnya, sampai juga saya didaerah Tanah Abang, tepatnya di jalan Baru. Saya melihat banyak mobil yang akan kearah flyover atas tapi berhenti, ternyata stasiun Tanah Abang terendam banjir berkat sungai disebelahnya meluap. Jalan flyover keatas yang akan saya lalui ke arah Petamburan, banjir lebih merajalela karena bersebelahan dengan sungai yang meluap. Kaki saya yang sudah melangkah keatas flyover dan berjalan kearah turunannnya, berhenti mendadak. Saya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan ini, saya berhenti bersama dengan orang-orang lain yang melihat air disungai mengalir deras. Beberapa warga yang rumahnya disebelah sungai, terlihat berjalan kearah yang lebih tinggi, anak-anak kecil berenang bermain.

Yang ada dipikiran saya saat itu hanya pulang, segera melihat rumah saya dan Ibu saya yang sedang berdagang. Saya berputar kembali kearah Senen. Dengan berjalan setengah kencang, saya menyusuri jalan sebelah Hotel Millenium, tapi disuruh berputar oleh beberapa orang disana. Akhirnya saya melewati jalanan disebelah Indosat, tapi ternyata saya merasa itu malah lebih parah (dibanding sebelumnya saat saya melangkah kearah Tanah Abang saya sudah melewati jalan ini). Beberapa satpam dan pegawai kantor Indosat dan BI terlihat memotret keadaan banjir. Saya ingin sekali berjalan melewati parkiran kantor tersebut karena letak mereka lebih tinggi dari jalan tapi melihat keangkuhan para satpam dan pegawai yang tidak sama sekali menawarkan padahal melihat banyak orang yang kesusahan, saya mengurungkan niat dan melewati banjir.

Akhirnya saya sampai di patung kuda, dan menemukan ojek yang bersedia mengantarkan saya tapi hanya sampai perempatan Senen, yaitu didepan Gunung Agung. Saya sangat berterimakasih, karena akhirnya saya dapat menghemat waktu dan tenaga. Ojek melaju ditengah gerimis, sampai didepan gedung Timor (sekolah saya dulu di jalan Batu, lupa namanya sekarang berubah jadi apa), genangan air membuat saya khawatir akan mematikan mesin motor. Tapi saya sampai juga diperempatan Senen, membayar ojek dan menyebrang jalan untuk melanjutkan pulang kerumah.


Didepan Senen yang biasanya banyak ojek sangat langka hari ini. Saya sudah berjalan kearah Kp. Rawa dan sampai didaerah Pasar Gaplok, saya mendapatkan tukang becak dan memanggilnya. Alhamdulillah, si abang becak masih mau mengangkut dan mengantar saya ditengah banjir daerah rumah saya. Air banjir sampai masuk kedalam becak dan mengenai kaki saya. Saya melihat, jalan raya kearah rumah saya masih banjir dan belum ada tanda-tanda surut. Akhirnya saya sampai rumah dan melewati gang rumah yang mulai banyak orang dan anak kecil yang berenang gembira, sedengkul banjir didaerah gang rumah. Saya melihat istri saudara saya yang sedang melayani pembeli dagangan nasi Ibu saya dan keponakan kecil saya yang hanya bercelana kolor.

Bahagia rasanya bisa bersama keluarga saya kembali, pulang kerumah, makan masakan Ibu saya, menemani keponakan saya bermain air hujan dan mengajaknya jalan2 keluar untuk menonton banjir. Saya jadi berpikir terus dalam hati apakah saya akan melakukan kebodohan yang sama jika hal seperti banjir besar ini terjadi lagi, yaitu jauh dari keluarga saya dan meninggalkan Ibu saya, dan saya sudah berjanji tidak akan mementingkan pekerjaan saya lagi. Keselamatan Ibu dan keluarga saya yang terpenting bagi saya dan itu tidak akan pernah tergantikan oleh apapun didunia ini.

18 Januari 2013, saya sudah bisa masuk kantor walau keadaan Tanah Abang masih banjir. Beberapa teman saya mengunjungi klien untuk bekerja. Tapi yang membuat saya sedih dan marah adalah absen saya yang tidak masuk akibatnya jatah cuti saya terpotong. Saya mendapati beberapa teman saya ternyata tidak berada dikliennya, tapi dirumah, tapi karena sudah absen ke klien, jadi otomatis dia tidak mendapat potongan cuti. Saya merasa ketidakadilan ini, tapi saya tidka mungkin memberitahu pihak absensi untuk memeriksa satu persatu karyawan yang tidak masuk banjir hari Kamis kemaren, 17 Januari 2013, kan???

Senin, 21 Januari 2013, saya dibuat bahagia oleh kebijaksanaan Direktur dikantor saya bekerja. Untuk tanggal 17 dan 18 bagi karyawan yang tidak masuk ataupun terlambat masuk, diperbolehkan melakukan pemulihan cuti dan absen dikarenakan bencana banjir. So, cuti saya aman tidak terpotong dan absen terlambat satu hari saya sudah dipulihkan sediakala. Terimakasih Pak Direktur, semoga kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran, kebaikan, kerendah-hatian, kebaikan budi selalu menyertai Anda dan semoga ALLAH SWT selalu melindungi Anda dan perusahaan yang Anda pimpin saat ini. Amin.

Sudahkah Anda (tidak) membayar angkot hari ini?

Sebagai pengguna kendaraan umum, beberapa hal yang sangat memalukan sering dijumpai dan betapa tidak menguntungkan menjadi pengguna angkot di Jakarta ini. Setiap pagi berangkat kerja menggunakan jasa PPD 916 arah ke Tanah Abang, sudah menunggu di daerah Rivoli sekitar jam 7:30 pagi, supaya tidak tertinggal oleh angkutan ini. Maklum, bis PPD 916 ini merupakan bis langka, keberadaannya sangat tidak tentu, jam sampai di suatu halte tidak tepat waktu. Kadang kalau sedang sial, ketinggalan beberapa menit saja bisa menunggu 1 jam untuk kedatangan bis berikutnya.

Akhirnya mencoba alternatif lain dengan bis Mayasari 507 atau 14 dari arah Senen. Tapi malangnya, bis ini sangat penuh (khususnya dengan copet). Sangat berkesan kan, begitu banyak persoalan yang dihadapi sebagai pengguna angkutan umum di Jakarta. Banyak sekali yang bisa dikeluhkan jika memang ingin. Tapi dari sekian banyak kejadian yang tidak mengenakkan di angkot, ternyata sebagian besar disebabkan oleh penggunanya.


Mendengar curhatan teman-teman yang menggunakan jasa Mikrolet dengan posisi duduk 4 dan 6, ternyata banyak yang harus ditoleransi oleh para penggunanya. Jika Anda merupakan orang terakhir yang menaiki mikrolet tersebut (misal di baris kiri sudah 4 orang, dan di baris kanan baru 5 orang), otomatis Anda akan menempati sisi yang masih kosong. Jarang sekali para penumpang yang sudah duduk mau bergeser sekedar memberi tempat orang yang baru naik dapat menempelkan pantatnya di bangku. Biasanya akan terjadi proses penggencetan dan pelemparan muka ke arah lain (pura-pura tidak melihat dan tidak peduli).

Sebagai orang yang terakhir naik, ternyata Anda memang diharapkan untuk mengalah. Anda harus membiarkan punggung Anda tidak menempel dan bersandar (beberapa orang bilang bahwa itu sudah konsekuensi orang terakhir). Wow, ternyata begitu yah, ada peraturan tidak tertulis yang dipraktekkan di dalam ber-angkot-ria.

Untuk pengguna bis besar (apalagi yang sumpek), beberapa orang (yang belum pernah kecopetan atau sang copet sendiri) lebih suka berdiri di depan pintu agar mudah untuk turun (alasan klasik). Sehingga pengguna baru akan kesulitan untuk memasuki bis dan berdempet-dempet ria di depan pintu bis. Tahukah Anda semua, jika Anda bukan gerombolan copet atau kenek, jangan biasakan berdiri di depan pintu, masuklah ke dalam dan cari tempat berdiri yang aman. Anda akan sangat membantu pengguna lain yang memang membutuhkan jasa yang sama. Dengan Anda masuk ke dalam, Anda membantu penumpang agar tidak menjadi korban pencopetan.

Tapi tahukah Anda, bahwa yang membuat bis penuh ternyata beberapa penggunanya tidak membayar ongkosnya (kejadian yang lebih menakutkan terjadi pada kereta api, hampir setengah pengguna gerbong tidak memiliki tiket). Sebagai orang yang membayar ongkos dan melihat orang lain tidak membayar, saya merasa kesal. Jika saja orang-orang yang tidak membayar itu turun, tentunya bis tidak akan terlalu penuh.

Kejadian ini sering saya lihat pada saat pulang ataupun pergi bekerja. Dan beberapa trik yang dilakukan oleh para pengguna agar tidak bayar ongkospun beragam. Beberapa waktu lalu, saat saya di daerah Gatot Subroto, sekitar jam 5 saat kantor bubaran, saya menaiki Metromini 640 ke arah Sudirman. Saya naik dari Menara Jamsostek Gatot Subroto, di sebelah saya ada seorang wanita pekerja. Kebiasaan saya sebelum naik angkot, saya sudah mempersiapkan ongkos di telapak tangan atau saya letakkan di kantong baju/celana agar saya tidak repot nantinya. Saya berpikir, jika saya repot membuka tas dan dompet, bukan tidak mungkin ada gerombolan copet yang mengamati dan akhirnya mengintai saya untuk mengambil barang yang saya bawa.

Kembali kepada pekerja wanita itu, saat sang kenek mengambil ongkos, dengan tergesa-gesa dia merogoh tasnya mencari uang 2000 perak. Tapi ternyata tidak ketemu dan sang kenek masih berdiri menunggu dan akhirnya wanita itu bilang, nanti. Sang kenek berlalu dan melanjutkan tugasnya berteriak mencari penumpang. Sampai di halte LIPI, sang wanita sudah menemukan uangnya dan kehadirannya sudah terhalangi oleh penumpang lain sehingga tidak terlihat oleh sang kenek. Akhirnya sampai Komdak, sang wanita turun dan berlalu begitu saja di hadapan sang kenek tanpa membayar.

Kejadian lain yang saya lihat, adalah di daerah Sudirman. Naik 5 orang, 2 lelaki dan 3 orang wanita (saya mendapat tempat duduk di belakang, di dekat pintu). Kenek masih ada di depan dan belum menagih ongkos. Saat kenek ke belakang, kelima orang itu sibuk dengan urusannya masing-masing. 1 orang lelaki (berjanggut) sibuk dengan hpnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. 2 orang wanita, berbicara satu sama lain dan membuang muka saat sang kenek mengocok-ngocok recehan logam di tangannya. Menyedihkan? Sangat!!!

Kejadian hari Jum’at kemaren yang sungguh mengecewakan saya karena pelakunya muslim wanita berjeans. Dia naik berdua dengan teman wanitanya (tidak berpakaian muslim) dari Setia Budi. Sang wanita biasa mengambil ongkosnya dan menggenggam uang 2000 perak itu di tangannya. Saat sang kenek Metromini 15 datang (dan tidak melakukan apa-apa karena tidak mengetahui bahwa ada pengguna baru naik) kedua wanita itu diam saja dan sibuk berbicara mengenai pekerjaannya. Akhirnya, bangku di sebelah saya kosong, dan sang wanita biasa duduk. Saya yang melihat uang masih di genggaman tangan akhirnya berbisik kepada wanita biasa ini.

“Maaf, Mba. Baru naik kan yah, kayaknya Abang keneknya tidak tahu. Kalau mau membayar langsung di kasih aja. Sayang kan hanya karena duit 2000 jadi bikin dosa.”

“Oh, iya, lupa.” Lalu saat kenek itu kembali, sang wanita biasa memberikan uang ongkosnya. Dan sang wanita muslim? Dengan tampang cuek diam saja dan tidak membayar.

Hahaaaaa, kadang memang manusia lupa dan selalu membuat dosa. Dari kalangan rakyat biasa sampai rakyat luar biasa. Kesempatan setiap orang untuk lupa dan berbuat dosa berlainan. Bisa cuma karena 2000 perak sampai 2 milyar, cuma kondisi saja yang berbeda tapi praktekknya sama. Jika si 2000 perak ada di posisi 2 milyar, bukan tidak mungkin dia akan melakukan ke-lupa-an yang sama saat dia berada di 2000 perak.

Memang kesempatan untuk berhemat saat tidak harus membayar ongkos angkot karena kebodohan sang kenek yang kurang agresif sepenuhnya bukan kesalahan pengguna bis. “Bukan kesalahan gue dong, dia yang gak nagih,” begitu alasan beberapa orang. Tapi bagi saya pengguna yang bayar, saya lebih suka Anda tidak naik, Anda membuat bis yang saya naiki jadi penuh, panas, dan tidak aman. Saya lebih suka Anda yang memang tidak punya uang melakukan sesuatu agar tetap dapat sampai di tujuan Anda, misal dengan pura-pura mengamen.

Saya mengerti uang 2000 perak itu nilainya berbeda bagi semua orang, tapi bukankah kewajiban kita untuk membayar tanpa perlu di tagih, untuk mengingatkan jika yang lain lupa, untuk saling melindungi jika yang lain benar. Keluh kesah ini mungkin tidak akan menjadikan angkot di Jakarta menjadi semakin baik atau perilaku ber-angkot-ria menjadi nyaman dan aman. Tapi semoga membantu mengingatkan semua kalangan pengguna angkot agar bersikap lebih manusiawi dan membayar apa yang Anda ambil (gunakan).

Jakarta Lebih Baik? Pasti bisa…


ProSwitching Middleware

Guna memenuhi kebutuhan industri Perbankan dan Jasa Keuangan, ProSwitching hadir dengan inovasi dan memberikan SOLUSI terkait integrasi berbagai sistem perusahaan, koneksi melalui pihak ketiga (Artajasa, Rintis, Jalin, ALTO, Finnet, JKPIndo, Gamelan, Depkeu, Kemenag, ACS, Aprisma, dan lainnya) dengan penggunaan berbagai macam format message (ISO 8583, XML, JSON, dll), koneksi melalui berbagai macam delivery channel (ATM, POS/EDC, Mobile Banking, SMS Banking, Internet Banking, Phone Banking, dan Teller), modul yang dapat di kustomisasi sesuai kebutuhan pengguna, perluasan jaringan dan jenis transaksi, serta dukungan tim IT Lokal yang Professional.


ProSwitching dapat menangani transaksi dalam jumlah besar, handal, efektif dan efisien, serta sangat fleksibel mengakomodasi pertumbuhan dan perkembangan transaksi. Penggunaan OpenEdge RDBMS sebagai Database dan LINUX sebagai sistem operasi membuat aplikasi menjadi lebih efisien.


Referensi perusahaan Perbankan pengguna produk ProSwitching sampai tahun 2019 diantaranya BRI, BRI Syariah, Bank Mega Syariah, Bank DKI, Bank MNC, Bank Mayora, Bank Index Selindo, Bank of Tokyo Mitsubishi, Bank Shinhan, Bank Jabar Banten Syariah, BPD NTT, BPD Bali, BPD Sultra, BPD Jatim, BPD Jambi, Bank Supra, Bank Harda International, dan Bank Perdania. Referensi perusahaan Non Perbankan pengguna produk ProSwitching sampai tahun 2019 adalah Astra Otoparts, Indonesai Smart Card, Citra Multi Services, Islamic Payment System (Malaysia), Sarana Yukti Bandhana (Praqtis), Palapa Digital Elektronik Indonesia, dan Andalan Terampil Multisiss.

Scroll Up