sophie paris

Sophie Martin Paris bukan produk dari Perancis

Bruno Hasson punya kemampuan desain dan doyan bikin produk baru. “Saya bisa berjam-jam mengamati sebuah produk yang saya anggap menarik,” katanya dalam bukunya Fashion Branding: 7 Jurus Sukses Branding Bisnis MLM Fashion (2008).

Dia merupakan lulusan Institut Superieur des Techniques d’Outre-Mer (Istom), sebuah institut pertanian milik pemerintah Perancis. Hasson menikah dengan Sophie Martin, keduanya sama-sama berkebangsaan Perancis. Seperti Bruno, istrinya juga desainer. Bruno pernah berkunjung ke Indonesia ketika masih kuliah. Mereka kemudian memutuskan hijrah ke Indonesia, untuk memulai bisnis.

Pada tahun-tahun pertama setelah Hasson lulus dari Istom, Indonesia masih dianggap Macan Asia. Pertumbuhan eknominya dianggap cepat, kala itu. Gambaran itu membuat Bruno nekad terbang ke Indonesia. Meski masih belum tahu apa yang harus dilakukannya nanti di Indonesia, Bruno hanya punya keyakinan dia akan berbisnis di Indonesia.

Tidak mudahnya sukses dalam berbisnis pernah dirasakan Bruno. Dia jatuh bangun dalam berbisnis. Dia pernah jualan pipa besi dan alat-alat pabrik.

Seperti banyak orang asing terpelajar yang datang ke Indonesia. Mereka mengamati perilaku orang Indonesia, termasuk cara ingin tampilnya. Menurut pengamatan Bruno pada 1995 terhadap produk tas masyarakat kelas menengah: “Kebanyakan tas saat itu desainnya sangat jelek dan bahannya tidak berkualitas, padahal harganya juga tidak murah.” Kondisi lain yang dilihat Bruno adalah “banyak produk lokal mengaku (sebagai) produk impor asal Perancis. Mereka juga mengaku memiliki desainer orang Perancis yang langsung turun tangan membangun produk. Padahal semua itu tidak benar.”

Bagi Bruno, idealnya, bisnis (sebaiknya) “berawal dari rasa empati akan keadaan masyarakat sekitar yang tidak terpenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan produk dan jasa yang ada.“ Bisnis haruslah menghadirkan solusi bagi masyarakat, “sedang profit akan berjalan seiring waktu.” Itu semua membuat Bruno bertekad memproduksi tas dengan desain menarik bergaya Perancis.

Meski diproduksi di Indonesia, merek berbau luar negeri tentu akan menarik bagi konsumen Indonesia. “Untuk memperkuat citra Perancis saya sengaja menggunakan penggalan nama istri saya, Sophie Martin, yang memiliki asosiasi kuat ke kata Perancis,” aku Bruno.

“Merek dagang yang awalnya di bawah bendera PT. Nadja Sukses Utama (NSU) ini didirikan pada 1995. Bermodal 40 juta rupiah, Bruno Hasson dan istrinya memulai usaha dari ruko berlantai tiga di Grand Wijaya Center, Jakarta,” tulis Satrio Wahono dan Kurniawan Abdullah dalam The Mantra Rahasia Sukses Berinovasi Jawara-Jawara Industri Dalam Negeri (2010). Mereka memulainya dengan 3 mesin jahit.

Semula, produk-produknya dijual di mal. Menurut Bruno, hasil penjualannya masih kecil pada awalnya. Sampai kemudian, seorang perempuan yang datang dan ngotot ingin memasarkan produk Sophie Martin di Bandung. ”Saya tolak, tapi dia minta terus,” cerita Bruno seperti dilansir dari Tempo (4/10/2010).

Setelah berkali-kali ditolak, Bruno akhirnya beri kesempatan. Alhasil, “ternyata laris.” Bruno pun tertarik pada sistem direct selling. Seperti “Michael Dell, pendiri Dell Computer, mengawali bisnis direct selling-nya setelah melihat IBM terlalu banyak memberikan margin kepada distributornya yang menyebabkan harga akhir komputer IBM menjadi mahal sekali,” tulis Bruno.

Harga mahal dan membuat produk sulit diinginkan konsumen tidaklah bagus. Bagi Bruno, Dell berusaha membuat harga komputer terjangkau. Dell begitu mempengaruhi Bruno, hingga dia berusaha membangun jaringan distribusi ala Multi Level Marketing (MLM). Hingga di dunia MLM Indonesia, Bruno dianggap sebagai salah satu pelopornya.

Menurut Bruno, Indonesia adalah “pasar menjanjikan bagi perusahaan MLM. Apabila dilihat perbandingan jumlah perusahaan MLM di Malaysia dan Indonesia berbanding jumlah penduduk, maka jumlah pelaku MLM di Indonesia terbilang sedikit.” Anggota MLM Sophie Martin sendiri sudah tembus 1 juta anggota. “Mimpi terbesar saya untuk Sophie adalah untuk menjadi perusahaan direct-selling terbesar di Indonesia dan juga di ASEAN,” aku Hasson.

Awal-awal bisnis Sophie Martin diwarnai dengan pecahnya kerusuhan di Jakarta. Bruno tak mau terpengaruh. Laki-laki berdarah Mesir-Perancis ini tetap bertahan di Jakarta. Bisnisnya terus jalan meski pasar lesu. Setelah perekonomian Indonesia berjalan lagi, Sophie Martin mampu bersaing di pasaran Indonesia.

Sophie Martin lalu berkembang. Ada konsep yang disebut Sophie Paris. Pada tahun 2009, Sophie Martin bahkan punya perwakilan di Casablanca, Maroko dan 2010 di Vietnam. Tak hanya tas saja yang belakangan diproduksi tapi juga parfum dan kosmetik. Pabrik parfum dan kosmetiknya berada di Ciamis, Jawa Barat. Kantor pusat dari Sophie Martin Paris sendiri berada di Jakarta, bukan Perancis.

sumber: https://tirto.id/sophie-martin-tidak-dibikin-dari-perancis-cvjt

Pengalaman Belanja Sophie Paris Mengecewakan

Bulan Oktober ini, web Sophie Paris mengalami perubahan dan banyak penyesuaian yang diperlukan member untuk dapat mengaksesnya. Tetapi gara-gara web baru ini belum lulus testing dengan sempurna, saya mendapatkan pengalaman menyebalkan dan sangat melelahkan dan akhirnya tidak membuahkan hasil.


Di mulai pada pemesanan pada 26 Oktober 2019 dengan total Rp. 731.710.



27 Oktober 2019, saya mendapat email bahwa pesanan sudah dikirimkan ke alamat tujuan.




28 Oktober 2019, saya mendapat SMS pesanan sudah dapat di ambil pada Indomaret Perintis Waringin.


Dan saya ke Indomaret Perintis Waringin dan menurut Kasir serta pegawai toko tidak ada paket datang dari Sophie Paris.

31 Oktober 2019, saya mengisi ticket di web Sophie Paris dan menanyakan pesanan saya yang tidak sampai di tujuan.



dan mendapatkan reply bahwa pesanan dikirimkan ke alamat lainnya yaitu Indomaret Palmerah Barat. Tentu saja saya menolak karena saya harus bolak balik Jakarta Bogor dan membawa produk yang pasti lumayan berat dan besar. Dan saya meminta dikirimkan ke alamat tujuan yang benar.



Tapi malangnya, saya mendapatkan PELAYANAN dari CS Sophie Paris yang tidak KOMPETEN. Nama saya salah disebutkan dan sang CS tidak melihat capture email dan SMS sebelumnya yang jelas-jelas pengiriman salah alamat.



Saya benar-benar marah dan kecewa, bukan hanya karena produk tidak di terima, tapi ketidakseriusan CS membalas email saya dan menuliskan nama yang keliru. Nama sangat berarti bagi saya karena Orang Tua saya yang telah memberikannya dan dengan nama itu saya di panggil orang, nama itu sudah ada banyak di ijazah, surat rumah, paspor, dan dokumen lainnya, dan tidak ada permohonan maaf dari CS tersebut walaupun sudah saya komplain.

5 November 2019, tiba-tiba pesanan saya dibatalkan dan hadiah WP2 yang sudah didapatkan HANGUS dan saya tidak jadi mendapatkan hadiah WP3 karena pemesanan dibatalkan.




Kembali saya email ke tim CS Sophie Paris, karena merasa tidak adil dibatalkan dan dihanguskan sementara kesalahan bukan dari saya.



14 November 2019, saya infokan nomor kartu kredit saya, di website Sophie Paris tertulis pengembalian 14 hari kerja.

Tanggal 6 Desember 2019 diinfokan bahwa refund sudah dilakukan dan ternyata tidak ada di data transaksi kartu kredit saya.



Sambil menunggu beberapa hari dan ternyata masih tidak ada di data transaksi, 11 Desember 2019, saya menghubungi CIMB NIAGA dan mendapat balasan bahwa tidak ada transaksi pengembalian dana dari Sophie Paris.



Saya percaya bahwa BANK mempunyai log transaksi yang akurat dan otomatis. Sedangkan untuk Sophie Paris lebih banyak mengandalkan kerja sistem manual masih banyak mengalami masalah.

13 Desember diketahui bahwa Tim Sophie Paris melakukan kesalahan kembali dengan NOMOR KARTU KREDIT KELIRU (sebelumnya kesalahan mengirimkan barang ke alamat tujuan).



Halo SOPHIE PARIS, tolong lebih bertanggung jawab dan memilih SDM yang lebih berkualitas.

Benar-benar membuat lelah dan malas…
Langkah terakhir akan di share ke Surat Pembaca jika belum mendapat balasan dan penyelesaian yang benar…

Scroll Up